Slogan ‘rumah tangga tanpa problema’ seringkali menghipnotis pola pikir para suami dan istri di jagad ini. Seakan kehidupan rumah tangga itu harus selalu berjalan mulus, tanpa aral rintangan. Padahal, cuaca kehidupan keluarga memang tak selamanya cerah. Seringkali mendung-mendung problema, bahkan hujan badai masalah datang menerpa keluarga.
Di sinilah, seorang istri harus mampu bermain cantik. Tatkala kekeruhan membelit keluarganya, terutama berkaitan dengan kondisi suaminya, ia dituntut untuk memainkan peran sebagai ‘pengimpor’ ketenangan dan ketenteraman dalam keluarganya. Bukan malah ikut mengeruhkan kondisi yang memang sudah keruh. Istri hendaklah bisa mencerahkan kepekatan yang menyelimuti keluarganya dan menggelayuti hati suaminya. Ingatlah firman Allah Ta’ala, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum [30] : 21)
Saat Suami Dirundung Gelisah
Jangan pernah meremehkan kegelisahan suami, sekecil apa pun intensitas kegelisahan itu. Berapa banyak bermula dari kondisi hati dan pikir suami yang sedang tidak fresh, pekat, suntuk dan gelisah, beragam problema keluarga acapkali terpampang di depan mata. Hal itu jika istri tak mampu menelusupkan sejumput sakinah dan ketenteraman di dalam hati suaminya. Padahal, gelisahnya suami membutuhkan sentuhan penawar yang menyejukkan dari istrinya, baik berupa ucapan yang teduh, sikap yang santun, maupun pelayanan indah yang mampu mengusir kepenatan jiwa.
Bukankah istri pertama Rasulullah, Khadijah x, telah menjadi teladan bagi para istri dalam memerankan fungsinya sebagai pengimpor ketenteraman bagi suaminya tercinta? Tatkala datang masa pengangkatan beliau sebagai nabi dan rasul, menandai dimulainya kehidupan yang berat penuh rintangan dan masa yang sulit penuh penindasan, Khadijah berdiri kokoh membela dan memantapkan hati Rasulullah. Saat wahyu pertama turun kepada beliau di gua Hira’, dan beliau pulang ke rumah dalam keadaan takut dan gelisah, maka ucapan sejuk meluncur dari lisan Khadijah, mengguyur hati Rasulullah,
“Demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena engkau senantiasa menyambung tali silaturahmi, meringankan beban orang lain, memberi kaum papa, memuliakan tamu, dan membela yang benar.” Subhanallah, kepekatan hati akibat dirundung rasa takut dan gelisah telah ‘dicerahkan’ oleh lisan santun seorang istri shalihah!
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik wanita surga adalah putri ‘Imran (Maryam), dan sebaik-baik wanita surga adalah Khadijah binti Khuwailid.” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad)
Di sinilah, seorang istri harus mampu bermain cantik. Tatkala kekeruhan membelit keluarganya, terutama berkaitan dengan kondisi suaminya, ia dituntut untuk memainkan peran sebagai ‘pengimpor’ ketenangan dan ketenteraman dalam keluarganya. Bukan malah ikut mengeruhkan kondisi yang memang sudah keruh. Istri hendaklah bisa mencerahkan kepekatan yang menyelimuti keluarganya dan menggelayuti hati suaminya. Ingatlah firman Allah Ta’ala, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum [30] : 21)
Saat Suami Dirundung Gelisah
Jangan pernah meremehkan kegelisahan suami, sekecil apa pun intensitas kegelisahan itu. Berapa banyak bermula dari kondisi hati dan pikir suami yang sedang tidak fresh, pekat, suntuk dan gelisah, beragam problema keluarga acapkali terpampang di depan mata. Hal itu jika istri tak mampu menelusupkan sejumput sakinah dan ketenteraman di dalam hati suaminya. Padahal, gelisahnya suami membutuhkan sentuhan penawar yang menyejukkan dari istrinya, baik berupa ucapan yang teduh, sikap yang santun, maupun pelayanan indah yang mampu mengusir kepenatan jiwa.
Bukankah istri pertama Rasulullah, Khadijah x, telah menjadi teladan bagi para istri dalam memerankan fungsinya sebagai pengimpor ketenteraman bagi suaminya tercinta? Tatkala datang masa pengangkatan beliau sebagai nabi dan rasul, menandai dimulainya kehidupan yang berat penuh rintangan dan masa yang sulit penuh penindasan, Khadijah berdiri kokoh membela dan memantapkan hati Rasulullah. Saat wahyu pertama turun kepada beliau di gua Hira’, dan beliau pulang ke rumah dalam keadaan takut dan gelisah, maka ucapan sejuk meluncur dari lisan Khadijah, mengguyur hati Rasulullah,
“Demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena engkau senantiasa menyambung tali silaturahmi, meringankan beban orang lain, memberi kaum papa, memuliakan tamu, dan membela yang benar.” Subhanallah, kepekatan hati akibat dirundung rasa takut dan gelisah telah ‘dicerahkan’ oleh lisan santun seorang istri shalihah!
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik wanita surga adalah putri ‘Imran (Maryam), dan sebaik-baik wanita surga adalah Khadijah binti Khuwailid.” (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad)
